
Penulis: Mochamad Nur Rofiq*
blokTuban.com - Ibu kota Jakarta, khususnya kawasan Kwitang, akhir-akhir ini jadi pusat perhatian. Kemarin demo, hari ini yang tersisa bukan cuma cerita, tapi juga besi-besi yang berserakan di jalan.
Nah, di sinilah kelihatan khasnya orang Indonesia: di tengah panasnya situasi, warga tetap tenang mencari peluang. Ada yang mengamankan situasi, ada pula yang mengamankan dapur dengan memungut besi sisa kericuhan.
Sebentar, ketikan ini sebagai wujud angkat topi untuk rekan sejawat di CNN Indonesia. Rekan jurnalis di tempat lain, jaga diri baik-baik ya!
Ternyata di tengah hiruk pikuk demonstrasi yang kerap menyisakan cerita panas, ada satu hal yang sering terlewat: kerja keras para jurnalis di lapangan. Rekan-rekan wartawan tetap hadir, menembus kerumunan, merekam suara, gambar, dan suasana, lalu merangkumnya jadi cerita yang bisa kita nikmati dengan aman dari balik layar.
Tanpa mereka, kita mungkin hanya mendapat potongan kabar dari mulut ke mulut yang sering kali lebih menambah panas daripada mendinginkan suasana.
Karena itu, patut diapresiasi liputan CNN Indonesia "Kondisi Kwitang Terkini Usai Demo, TNI Berjaga-Warga Berburu Besi" yang menghadirkan potret terkini Kwitang usai demo, lengkap dengan detail bagaimana TNI berjaga dan warga berburu besi di sisa kericuhan.
Berita ini bukan sekadar informasi, tapi juga cermin kehidupan: betapa masyarakat kita mampu menertawakan keadaan sekaligus bertahan hidup dari situasi paling sulit sekalipun.
Sebagai jurnalis, saya tahu liputan semacam ini bukan pekerjaan mudah. Ada risiko, ada tekanan, dan ada rasa was-was di tengah massa. Namun rekan-rekan tetap turun, menyajikan berita dengan bahasa yang lugas dan menenangkan.
Salut dan terima kasih, karena lewat tulisan kalian, publik tidak hanya tahu apa yang terjadi, tapi juga bisa belajar melihat sisi lain dari setiap peristiwa.
Bayangkan pemandangan ini: TNI berdiri gagah, rapi, serius menjaga keamanan. Tak jauh dari sana, ada warga yang tak kalah sigap membungkuk, mencari baut, logam, bahkan serpihan besi untuk dijual kiloan.
Dua-duanya sama-sama “berjaga”. bedanya, yang satu jaga stabilitas bangsa, yang satu jaga stabilitas isi dompet.
Kalau dilihat dari kacamata adem, justru ini lucu sekaligus menghibur. Demo memang bisa bikin emosi, tapi warga selalu punya cara kreatif bikin suasana cair.
Besi bekas yang mestinya jadi simbol kerusakan, malah berubah jadi sumber penghasilan. Dari panasnya politik, lahirlah peluang ekonomi rumahan.
Di titik ini, saya salut pada rekan-rekan media yang masih setia hadir di lapangan. Misalnya CNN Indonesia yang memberitakan kondisi Kwitang pasca-demo, lengkap dengan detail warga berburu besi dan TNI yang berjaga.
Berita semacam ini penting, karena bukan hanya menampilkan sisi “seramnya” demo, tapi juga wajah unik masyarakat kita yang pandai mengubah kericuhan jadi peluang.
Salut juga untuk para jurnalisnya yang berani turun ke jalan, merekam suasana, dan menuliskannya supaya kita yang di rumah bisa ikut memahami dinamika tanpa harus terjun langsung.
Mungkin ke depan, kalau ada demo lagi, panitianya bisa sekalian buka "stand daur ulang" di lokasi. Jadi habis teriak-teriak soal aspirasi, pulangnya bisa bawa oleh-oleh sekarung besi bekas. Emosi tersalurkan, perut pun terselamatkan.
Kwitang memberi kita pelajaran: konflik bisa bikin panas, tapi selalu ada cara untuk bikin adem. Tinggal kita pilih—mau terus bakar emosi, atau ikut warga yang kreatif cari cuan dari besi. Karena ingat, besi bisa dijual, emosi enggak.
*Penulis Merupakan Jurnalis aktif di media blokTuban.com